Senin, 04 April 2011

Sejarah lampu lalu lintas



Penemu lampu lalu lintas adalah Garrett Augustus Morgan. Awal penemuan ini diawali ketika suatu hari ia melihat tabrakan antara mobil dan kereta kuda. Kemudian ia berpikir bagaimana cara menemukan suatu pengatur lalu lintas yang lebih aman dan efektif. Sebenarnya ketika itu telah ada sistem perngaturan lalu lintas dengan sinyal stop dan go. Sinyal lampu ini pernah digunakan di London pada tahun 1863. Namun, pada penggunaannya sinyal lampu ini tiba-tiba meledak, sehingga tidak dipergunakan lagi. Morgan juga merasa sinyal stop dan go memiliki kelemahan, yaitu tidak adanya interval waktu bagi pengguna jalan sehingga masih banyak terjadi kecelakaan. Penemuan Morgan ini memiliki kontribusi yang cukup besar bagi pengaturan lalu lintas, ia menciptakan lampu lalu lintas berbentuk huruf T. Lampu ini terdiri dari tiga lampu, yaitu sinyal stop (ditandai dengan lampu merah), go (lampu hijau), posisi stop (lampu kuning). Lampu kuning inilah yang memberikan interval waktu untuk mulai berjalan atau mulai berhenti. Lampu kuning juga memberi kesempatan untuk berhenti dan berjalan secara perlahan.

Jenis lampu lalu lintas

 Berdasarkan cakupannya

  • Lampu lalu lintas terpisah — pengoperasian lampu lalu lintas yang pemasangannya didasarkan pada suatu tempat persimpangan saja tanpa mempertimbangkan persimpangan lain.
  • Lampu lalu lintas terkoordinasi — pengoperasian lampu lalu lintas yang pemasangannya mempertimbangakan beberapa persimpangan yang terdapat pada arah tertentu.
  • Lampu lalu lintas jaringan — pengoperasian lampu lalu lintas yang pemasangannya mempertimbangkan beberapa persimpangan yang terdapat dalam suatu jaringan yang masih dalam satu kawasan.

Berdasarkan cara pengoperasiannya

  • Fixed time traffic signal — lampu lalu lintas yang pengoperasiaannya menggunakan waktu yang tepat dan tidak mengalami perubahan.
  • Actuated traffic signal — lampu lalu lintas yang pengoperasiaannya dengan pengaturan waktu tertentu dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu sesuai dengan kedatangan kendaraan dari berbagai persimpangan.

Tujuan adanya lampu lalu lintas

  • Menghindari hambatan karena adanya perbedaan arus jalan bagi pergerakan kendaraan.
  • Memfasilitasi persimpangan antara jalan utama untuk kendaraan dan pejalan kaki dengan jalan sekunder sehingga kelancaran arus lalu lintas dapat terjamin.
  • Mengurangi tingkat kecelakaan yang diakibatkan oleh tabrakan karena perbedaan arus jalan.

Variasi lampu lalu lintas

Lampu lalu lintas memiliki banyak variasi, tergantung dari budaya negara yang menggunakannya dan kebutuhan khusus di perempatan tertentu. Contoh variasinya adalah lampu lalu lintas khusus pejalan kaki, lampu lalu lintas untuk pengguna sepeda, bus, kereta, dan lain-lain. Urutan lampu yang terpasang juga dapat berbeda-beda. Selain itu, ada banyak aturan dalam pengaturan lampu lalu lintas. Semua variasi lampu lalu lintas ini bisa saja dioperasikan bersamaan pada perempatan yang kompleks. Misalnya saja pada perempatan yang kompleks yang ramai dilewati para pejalan kaki dan kendaraan roda empat, seorang anak bernama Tika Oktavianingsih dan rombongan kawan-kawannya harus menunggu lampu khusus pejalan kaki berwarna hijau menyala jika ingin menyeberang jalan. Di sisi lain, jika lampu pejalan kaki berwarna hijau menyala, sebuah mobil dengan nomor polisi 0806346565 harus berhenti, karena secara otomatis lampu lalu lintas untuk kendaraan akan berwarna merah jika lampu pejalan kaki berwarna hijau.

Perkembangan lampu lalu lintas

  • Pada 10 Desember 1868, lampu lalu lintas pertama dipasang di bagian luar Gedung Parlemen di Inggris oleh sarjana lalu lintas, J.P Knight. Lampu ini menyerupai penunjuk waktu (jam) dengan bentuk seperti semapur dan lampu merah dan hijau untuk malam hari. Lampu-lampu tersebut berasal dari tenaga gas.
  • Pada 2 Januari 1868, tiba-tiba lampu tersebut meledak dan melukai seorang polisi sehingga harus dioperasi.
  • Pada awal 1912 Lampu lalu lintas modern ditemukan di Amerika Serikat. Di Salt Lake City, seorang polisi, Utah, menemukan lampu lintas pertama yang dijalankan dengan tenaga listrik.
  • Pada 5 Agustus 1914, American Traffic Signal Company memasang sistem lampu sinyal di dua sudut jalan di Ohio. Lampu sinyal ini terdiri dari dua warna, merah dan hijau, dan sebuah bel listrik. Lampu ini di desain oleh James Hoge. Keberadaan bel di sini untuk memberi peringatan jika adanya perubahan nyala lampu. Lampu rancangan Hoge ini dapat dikontrol oleh polisi dan pemadam kebakaran jika ada dalam keadaan darurat.
  • Pada awal tahun 1920, lampu lalu lintas dengan tiga warna pertama dibuat oleh seorang petugas polisi, William Potts, di Detroit, Michigan.
  • Pada tahun 1923, Garrett Morgan mematenkan alat sinyal lampu lalu lintas.
  • Tahun 1917, lampu lalu lintas pertama dijalankan saling berhubungan satu dengan yang lain. Interkoneksi antarlampu ini dijalankan pada enam persimpangan yang dikontrol secara bersamaan dengan tombol manual.
  • Lampu lalu lintas pertama yang dioperasikan secara otomatis diperkenalkan pada Maret 1922 di Houston, Texas.
  • Di Inggris, lampu lalu litas pertama dioperasikan di Wolverhampton pada tahun 1927.

 

Warna lampu lalu lintas

Warna yang paling umum digunakan untuk lampu lalu lintas adalah merah, kuning, dan hijau. Merah menandakan berhenti atau sebuah tanda bahaya, kuning menandakan hati-hati, dan hijau menandakan boleh memulai berjalan dengan hati-hati. Biasanya, lampu warna merah mengandung beberapa corak berwarna jingga, dan lampu hijau mengandung beberapa warna biru. Ini dimaksukan agar orang-orang yang buta warna merah dan hijau dapat mengerti sinyal lampu yang menyala. Di Amerika Serikat, lampu lalu lintas memiliki pinggiran berwarna putih yang dapat menyala dalam kegelapan. Ini bertujuan agar orang yang mengidap buta warna dapat membedakan mana lampu kendaraan dan yang mana lampu lalu lintas dengan posisinya yang vertikal.

Sistem lampu lalu lintas

Sistem pengendalian lampu lalu lintas dikatakan baik jika lampu-lampu lalu lintas yang terpasang dapat berjalan baik secara otomatis dan dapat menyesuaikan diri dengan kepadatan lalu lintas pada tiap-tiap jalur. Sistem ini disebut sebagai actuated controller. Namun, para akademisi Indonesia telah menemukan sistem baru untuk menjalankan lampu lalu lintas. Sistem ini dikenal sebagai Logika fuzzy. Metode logika fuzzy digunakan untuk menentukan lamanya waktu lampu lalu lintas menyala sesuai dengan volume kendaraan yang sedang mengantre pada sebuah persimpangan. Hasil pengujian sistem logika fuzzy ini menunjukkan bahwa sistem lampu dengan logika ini dapat menurunkan keterlambatan kendaraan sebesar 48,44% dan panjang antrean kendaraan sebesar 56,24%; jika dibandingkan dengan sistem lampu konvensional. Lampu lalu lintas pada umumnya dioperasikan dengan menggunakan tenaga listrik. Namun, saat ini sudah perkembangan teknologi lampu lalu lintas dengan tenaga matahari.
Sejarah Lampu Lalulintas










Hampir semua jalan di kota-kota besar di dunia terdapat rambu-rambu lalulintas diantaranya lampu lalulintas. Lampu lalulintas tersebut terdiri dari tiga warna yaitu : warna merah, warna kuning dan warna hijau. Adapun arti dari masing – masing warna tersebut
Telah kita ketahui bahwa warna merah berarti stop/berhenti atau dilarang berjalan, sedangkan warna kuning artinya hati-hati waspada atau siap-siap, dan warna hijau berarti bebas atau boleh berjalan dan aman

Apakah kita tahu asal-usul kenapa warna merah itu artinya stop, bahaya,
larangan


Warna kuning itu artinya hati-hati / waspada.Dan warna hijau itu artinya bebas /boleh berjalan dan aman, Berikut akan saya coba jelaskan satu persatu .

Warna merah artinya larangan atau stop atau bahaya. Kenapa demikian ?.
Warna merah identik dengan warna darah, sejak jaman dulu manusia sering berperang untuk memperebutkan sesuatu dan lain hal. Berperang berarti saling membunuh, saling melukai dan saling menumpahkan darah. Banyak para korban perang tersebut ada yang terluka bahkan ada yang tewas. Baik korban terluka maupun tewas pasti tubuhnya mengeluarkan darah. Kita ketahui bahwa semua manusia darahnya berwarna merah. Kalau manusia terluka pasti keluar darah dan terasa sakit. Dengan adanya perkembangan jaman ada suatu kelompok manusia yang anti peperangan, yang menyatakan bahwa perang itu membahayakan, maka disepakati dan dibuatlah aturan untuk tidak saling berperang, melukai dan saling membunuh sesama manusia karena sangat mem bahayakan. Dengan tahapan aturan tersebut, yaitu awas bisa melukai , awas bahaya, dilarang melukai , dilarang / bahaya. Sehingga sampai sekarang warna MERAH di jadikan symbol aturan yang membahayakan/LARANGAN.
Mungkin larangan warna merah pertama adalah larangan bagi kaum laki-laki untuk menggauli istrinya yang sedang mainpouse/heid.
Warna Kuning artinya hati-hati atau waspada, pelan-pelan. Kenapa demikian ?.

Warna Kuning identik dengan warna API, api memiliki sifat antara dua pilihan yaitu api kecil bisa di kendalikan, sedangkan api besar sulit dikendalikan dan bisa membahayakan. Aturan warna kuning memiliki resiko bisa aman dan bisa tidak aman/bahaya, begitu juga api, baik api kecil maupun api besar memiliki sifat panas, dan manusia akan selalu hati-hati dengan api.
Jaman dulu di dalam peperangan manusia selalu menggunakan api, baik untuk senjata, sinyal komunikasi, symbol / panji-panji dan penerangan/obor .Dalam situasi berperang, prajurit selalu dituntut untuk waspada dan hati- hati terhadap gerakan musuhnya, apalagi di malam hari, mereka menggunakan api untuk segala sesuatunya, mereka akan mengamati pergerakan musuhnya dengan melihat api yang digunakan, sehingga bila ada gerakan api atau obor musuhnya mereka akan bersiap-siap dan waspada untuk menghadapi serangan musuhnya. Sehingga sampai sekarang warna kuning telah disepakati sebagai symbol aturan hati-hati / waspada / siap-siap.Warna kuning bisa juga diidentikan warna daun yang sudah tua / menguning yang sebentar lagi daun tersebut akan gugur / jatuh /mati.Warna kuning diartikan sebagai warna transisi / peralihan.

Warna Hijau artinya bebas / boleh berjalan atau diperbolehkan/ aman.
Kenapa demikian ?. Warna hijau identik dengan warna alam, hutan yaitu terutama warna DAUN tumbuh-tumbuhan. Hampir semua warna daun tumbuh- tumbuhan memiliki warna hijau, meskipun sebagian kecil tumbuh-tumbuhan berwarna lain. Lantas kenapa warna hijau diidentikan dengan kebebasan ?,Banyak tumbuh-tumbuhan di dunia ini berbeda jenisnya, sifatnya, ragamnya, corak dan bentuknya, golonganya serta macam-macam yang lainnya. Tetapi hampir semua daunnya memiliki warna hijau, arti kata semua bebas untuk berwarna hijau, dan tak satupun ada yang melarangnya, baik dari tumbuh-tumbuhan itu sendiri dan yang berasal dari jenis yang berbeda. Jadi warna hijau memiliki arti suatu kebebasan. Warna hijau juga memiliki sifat sensitif terhadap penglihatan kita, memiliki warna yang menyegarkan mata terutama untuk terapi warna / warna refresh. Sehingga warna hijau tersebut sangat aman bagi mata kita.
Dan akhirnya warna hijau disepakati sebagai symbol aturan kebebasan dan aman atau boleh dan diperbolehkan.


Lampu lalu lintas digunakan sebelum kedatangan Motorcar. Pada tahun 1868, Inggris insinyur JP Knight menemukan lampu lalu lintas pertama, lentera merah dan hijau dengan sinyal. Itu dipasang di persimpangan George dan Jembatan Jalan di depan British House of Commons untuk mengontrol aliran kereta kuda dan pejalan kaki.

Motorcars diperkenalkan ke Amerika Serikat pada akhir 1890-an dan kebutuhan untuk kontrol lalu lintas segera menjadi jelas. Sejumlah orang datang dengan ide-ide untuk pengendalian lalu lintas. Pada tahun 1910, Earnest Sirrine Chicago, Illinois mengajukan paten (tidak 976.939) untuk sesuatu yang dianggap pertama sistem lalu lintas jalan otomatis, menggunakan kata-kata yang tidak diterangi STOP (berhenti) dan MOVE (melanjutkan).

Pada tahun 1912, Lester Wire dari Salt Lake City, Utah menemukan lampu lalu lintas listrik yang digunakan lampu merah dan hijau. Namun, ia tidak mengajukan paten. Tahun berikutnya, James Hoge menerima hak paten nomor 1.251.666 untuk dikontrol secara manual sistem lampu lalu lintas menggunakan lampu listrik. Itu dipasang di Cleveland, Ohio pada tahun 1914, menampilkan kata-kata STOP dan MOVE.

Pertama sistem lampu lalu lintas menggunakan lampu merah dan hijau yang dipatenkan oleh William Ghiglieri San Francisco, California pada 1917 (tidak dipatenkan 1.224.632). Rancangannya dapat dioperasikan secara manual atau otomatis.

Cahaya yang kuning ditambahkan pada tahun 1920 oleh William Potts, seorang polisi Detroit. Dia benar-benar menemukan beberapa sistem lampu lalu lintas, termasuk cara menggantung empat sistem, tetapi tidak berlaku untuk paten. Orang pertama untuk mengajukan permohonan paten untuk memproduksi lampu lalu lintas yang murah Garrett Morgan, yang menerima paten pada tahun 1923.
Parkir Meter

Kredit untuk mengambil semua kredit parkir Anda pergi ke Carlton Cole Magee yang menemukan meteran parkir pertama di tahun 1932, menerima paten (tidak ada 2.118.318) untuk itu pada tahun 1935. Magee-Hale Nya Park-O-Meter diinstal Perusahaan meter pertama di Oklahoma City pada tahun 1935 dan masih menghasilkan sebagian besar dari parkir meter di Amerika Serikat.

Don't Walk

"Jangan Berjalan/Don't Walk" 'tanda-tanda yang dipasang di New York City pada tanggal 5 Februari 1952. Merah tetap menjadi pilihan warna untuk tanda-tanda peringatan karena mengangkat merah tekanan darah, meningkatnya ketegangan syaraf, maka warna yang paling mungkin untuk menarik perhatian. Kuning digunakan dalam tanda-tanda yang ditujukan untuk lalu lintas kendaraan karena merupakan warna yang paling terlihat dalam spektrum dan dapat dilihat dari jarak terjauh.
Sejarah Lampu Lalu Lintas


Penemu lampu lalu lintas adalah Garrett Augustus Morgan. Awal penemuan ini diawali ketika suatu hari ia melihat tabrakan antara mobil dan kereta kuda. Kemudian ia berpikir bagaimana cara menemukan suatu pengatur lalu lintas yang lebih aman dan efektif. Sebenarnya ketika itu telah ada sistem perngaturan lalu lintas dengan sinyal stop dan go. Sinyal lampu ini pernah digunakan di London pada tahun 1863. Namun, pada penggunaannya sinyal lampu ini tiba-tiba meledak, sehingga tidak dipergunakan lagi. Morgan juga merasa sinyal stop dan go memiliki kelemahan, yaitu tidak adanya interval waktu bagi pengguna jalan sehingga masih banyak terjadi kecelakaan. Penemuan Morgan ini memiliki kontribusi yang cukup besar bagi pengaturan lalu lintas, ia menciptakan lampu lalu lintas berbentuk huruf T. Lampu ini terdiri dari tiga lampu, yaitu sinyal stop (ditandai dengan lampu merah), go (lampu hijau), posisi stop (lampu kuning). Lampu kuning inilah yang memberikan interval waktu untuk mulai berjalan atau mulai berhenti. Lampu kuning juga memberi kesempatan untuk berhenti dan berjalan secara perlahan.


Tujuan adanya lampu lalu lintas

* Menghindari hambatan karena adanya perbedaan arus jalan bagi pergerakan kendaraan.
* Memfasilitasi persimpangan antara jalan utama untuk kendaraan dan pejalan kaki dengan jalan sekunder sehingga kelancaran arus lalu lintas dapat terjamin.
* Mengurangi tingkat kecelakaan yang diakibatkan oleh tabrakan karena perbedaan arus jalan.



Perkembangan lampu lalu lintas

* Pada 10 Desember 1868, lampu lalu lintas pertama dipasang di bagian luar Gedung Parlemen di Inggris oleh sarjana lalu lintas, J.P Knight. Lampu ini menyerupai penunjuk waktu (jam) dengan bentuk seperti semapur dan lampu merah dan hijau untuk malam hari. Lampu-lampu tersebut berasal dari tenaga gas.
* Pada 2 Januari 1868, tiba-tiba lampu tersebut meledak dan melukai seorang polisi sehingga harus dioperasi.
* Pada awal 1912 Lampu lalu lintas modern ditemukan di Amerika Serikat. Di Salt Lake City, seorang polisi, Utah, menemukan lampu lintas pertama yang dijalankan dengan tenaga listrik.
* Pada 5 Agustus 1914, American Traffic Signal Company memasang sistem lampu sinyal di dua sudut jalan di Ohio. Lampu sinyal ini terdiri dari dua warna, merah dan hijau, dan sebuah bel listrik. Lampu ini di desain oleh James Hoge. Keberadaan bel di sini untuk memberi peringatan jika adanya perubahan nyala lampu. Lampu rancangan Hoge ini dapat dikontrol oleh polisi dan pemadam kebakaran jika ada dalam keadaan darurat.
* Pada awal tahun 1920, lampu lalu lintas dengan tiga warna pertama dibuat oleh seorang petugas polisi, William Potts, di Detroit, Michigan.
* Pada tahun 1923, Garrett Morgan mematenkan alat sinyal lampu lalu lintas.
* Tahun 1917, lampu lalu lintas pertama dijalankan saling berhubungan satu dengan yang lain. Interkoneksi antarlampu ini dijalankan pada enam persimpangan yang dikontrol secara bersamaan dengan tombol manual.
* Lampu lalu lintas pertama yang dioperasikan secara otomatis diperkenalkan pada Maret 1922 di Houston, Texas.
* Di Inggris, lampu lalu litas pertama dioperasikan di Wolverhampton pada tahun 1927.


Warna lampu lalu lintas

Warna yang paling umum digunakan untuk lampu lalu lintas adalah merah, kuning, dan hijau. Merah menandakan berhenti atau sebuah tanda bahaya, kuning menandakan hati-hati, dan hijau menandakan boleh memulai berjalan dengan hati-hati. Biasanya, lampu warna merah mengandung beberapa corak berwarna jingga, dan lampu hijau mengandung beberapa warna biru. Ini dimaksukan agar orang-orang yang buta warna merah dan hijau dapat mengerti sinyal lampu yang menyala. Di Amerika Serikat, lampu lalu lintas memiliki pinggiran berwarna putih yang dapat menyala dalam kegelapan. Ini bertujuan agar orang yang mengidap buta warna dapat membedakan mana lampu kendaraan dan yang mana lampu lalu lintas dengan posisinya yang vertikal.




Sistem lampu lalu lintas

Sistem pengendalian lampu lalu lintas dikatakan baik jika lampu-lampu lalu lintas yang terpasang dapat berjalan baik secara otomatis dan dapat menyesuaikan diri dengan kepadatan lalu lintas pada tiap-tiap jalur. Sistem ini disebut sebagai actuated controller. Namun, para akademisi Indonesia telah menemukan sistem baru untuk menjalankan lampu lalu lintas. Sistem ini dikenal sebagai Logika fuzzy. Metode logika fuzzy digunakan untuk menentukan lamanya waktu lampu lalu lintas menyala sesuai dengan volume kendaraan yang sedang mengantre pada sebuah persimpangan. Hasil pengujian sistem logika fuzzy ini menunjukkan bahwa sistem lampu dengan logika ini dapat menurunkan keterlambatan kendaraan sebesar 48,44% dan panjang antrean kendaraan sebesar 56,24%; jika dibandingkan dengan sistem lampu konvensional. Lampu lalu lintas pada umumnya dioperasikan dengan menggunakan tenaga listrik. Namun, saat ini sudah perkembangan teknologi lampu lalu lintas dengan tenaga matahari.

Sumber : Wikipedia



PENERAPAN LOGIKA FUZZY PADA LAMPU LALU LINTAS UNTUK MENGURANGI TINGKAT KEMACETAN

Nur Ikrar Aisfar, Muhammad Takdir, Ermi Suryani A
(Mahasiswa FMIPA UNM)

ABSTRAK

Persoalan kemacetan lalu lintas saat ini menjadi masalah transportasi yang dialami oleh hampir seluruh kota-kota besar di dunia terkhusus di indonesia. Kemacetan lalu lintas disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya lampu lalu lintas yang kadang tidak berfungsi dengan baik. Sistem kendali pada lampu lalu lintas selain berorientasi pada waktu seharusnya juga mempertimbangkan tingkat kepadatan arus lalu lintas jalur yang diatur. Karya tulis ini bertujuan untuk mengetahui penerapan logika fuzzy pada lampu lalu lintas untuk mengurangi tingkat kemacetan sehingga dapat bermanfaat bagi pemerintah sebagai masukan dalam menanggulangi kemacetan. Logika Fuzzy adalah ilmu yang mempelajari tingkat kebenaran suatu objek dalam suatu himpunan semesta pembicaraan yang memiliki batas yang jelas dan memiliki derajat keanggotaan yang berjenjang antara anggota dan bukan anggota yakni pada nilai nol sampai satu. Langkah-langkah penerapan logika fuzzy yaitu Fusifikasi (Fuzzyfication), Evaluasi Kaidah, Defusifikasi (Defuzzification). Sistem pengendalian fuzzy yang dirancang mempunyai dua masukan dan satu keluaran dengan menggunakan kaidah jika-maka dengan operator “dan” pada kedua masukan. Masukan adalah jumlah kendaraan pada suatu jalur yang sedang diatur dan jumlah kendaraan pada jalur lain, dan keluaran berupa lama nyala lampu hijau pada jalur yang sedang diatur dan jangka waktu lampu merah menyala pada jalur yang menunggu sedangkan lampu kuning menyala dianggap konstan. Keunggulan dari lampu lalu lintas yang berbasis logika fuzzy yaitu dalam pengaturannya memperhatikan kepadatan kendaraan dari jalur yang di atur. 

Cara Kerja Lampu Lalu Lintas / Traffic Light

ATCS (Automatic Traffic Light Control System) telah digunakan pada kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya untuk mencegah terjadinya kemacetan.
Tetapi meningkatnya jumlah kendaran menyebabkan ATCS berfungsi kurang optimal. Untuk itu dibuat sistem ATCS yang dapat bekerja menentukan lama penyalaan lampu hijau secara otomatis berdasarkan distribusi kepadatan. Sistem ini mengontrol lampu Lalu Lintas otomatis dengan menggunakan kamera berbasis mikrokontroller.
Kamera digunakan sebagai pengamat kepadatan kendaraan pada suatu persimpangan. Hasil pengamatan diolah PC sehingga diperoleh persentase kepadatan pada tiap-tiap jalur.
Mikrokontroller bekerja menyalakan lampu lalu lintas secara default kontrol yaitu searah dengan arah jarum jam. Jika PC terkoneksi dengan mikrokontroller maka mikrokontroller mengirimkan informasi jalur mana yang lampu hijaunya akan menyala.

Kemudian PC mengolah gambar persimpangan dan menentukan besarnya persentase kepadatan serta lama penyalaan lampu hijau untuk jalur yang telah ditentukan. Apabila tidak ada koneksi antara PC dan mikrokontroller maka lama penyalaan lampu hijau adalah 6 detik.
Persentase kepadatan pada tiap-tiap jalur juga dipengaruhi dari persimpangan sebelumnya yang terhubung pada tiap-tiap jalur secara simulasi. Sistem ini dapat bekerja menentukan lama penyalaan lampu hijau dengan persentase keberhasilan sebesar 100%.
Pada umumnya arah perpindahan lampu lalu lintas dapat diatur sesuai dengan arah jarum jam (clockwise) atau berlawanan arah jarum
jam (counter clockwise).
Lampu lalu lintas bekerja secara bergantian pada tiap jalur sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan dengan urutan menyala lampu hijau, lampu kuning dan lampu merah.

Nov
14

Prototipe Pengatur Lampu Lalu-lintas berbasis FPGA ALTERA EPF10K10 Menggunakan VHDL

Abstrak
Telah dibuat sebuah Pengatur Lampu Lalu Lintas berbasis FPGA dengan menggunakan kode VHDL. Sistem pengatur lalu lintas ini terbagi menjadi dua mekanisme, yaitu kontrol otomatis dan kontrol manual, yang masing-masing terdiri dari beberapa modul yang diimplementasikan dengan VHDL. Pengatur lampu lalu lintas ini dapat mengatur waktu interval nyala lampu sehingga tidak stagnan, melainkan adaptif, baik itu berdasarkan waktu jam digital (kontrol otomatis), maupun berdasarkan pengaturan yang didefinisikan oleh pengguna (kontrol manual). Alat ini dapat bekerja dipersimpangan dengan jumlah n-jalur, misalnya perempatan, pertigaan, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan modul terbagi menjadi modul lalu lintas inti dan modul lalu lintas unit. Rancangan alat memakai Embedded Array Block (EAB) dalam FPGA Altera EPF10K10 sebagai memori dengan penggunaan Memory Bits sebesar 96 dan Memory Utilized 1%, hasilnya menggunakan perancangan berbasis VHDL membutuhkan 327 Logic Elements atau 56% dari kapasitas total logic Element (LE) di dalam FPGA Altera EPF10K10.
PENDAHULUAN
Semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini mengakibatkan meningkatnya arus lalu lintas. Alat pengatur lalu lintas yang umum digunakan adalah pengatur lampu lalu lintas (traffic light). Fungsi pengatur lampu lalu lintas adalah untuk pengaturan, pengarahan atau peringatan pada pengendara maupun pejalan kaki dengan memakai tanda lampu lalu lintas sebagai petunjuk berhenti atau berjalan. Penempatan lampu lalu lintas pada persimpangan jalan ditujukan agar kemacetan yang umumnya banyak terjadi pada persimpangan jalan yang merupakan tempat bertemunya beberapa arus lalu lintas dapat dikurangi. Selain penempatan lampu lalu lintas yang tepat, pengaturan waktu siklus (cycle time) juga mutlak diperlukan karena pengaturan waktu siklus yang kurang tepat akan menyebabkan ketertundaan yang tinggi dan antrian yang panjang sehingga menimbulkan rasa ketidaknyamanan bagi para pemakai jalan. Hal ini banyak terlihat di beberapa persimpangan daerah ibukota yang padat, banyak pengaturan fase dan waktu siklus yang sudah tidak sesuai dengan kondisi persimpangan, namun masih saja dipakai sehingga kemacetan akibat waktu tundaan yang tinggi dan antrian panjang pun tidak terelakkan, diikuti oleh pelanggaranpelanggaran lalu lintas.
Pelanggaran terhadap lampu lalu lintas tidak hanya terjadi pada jam-jam puncak kesibukan, pada jam-jam saat arus lalu lintas sepi juga sering terjadi pelanggaran lalu lintas yaitu kecenderungan para pengguna jalan untuk tidak mematuhi lampu lalu lintas karena waktu siklus yang terlalu lama dan volume kendaraan pada persimpangan sangat kecil. Untuk itu perlu dikembangkan pengatur lampu lalu lintas yang memiliki waktu siklus dan fase yang dapat diatur dari waktu ke waktu selama 24 jam. Sehingga jumlah tundaan yang tinggi, antrian yang panjang dan jumlah pelanggaran lalu lintas yang tinggi dapat dikurangi seminimal mungkin. Pengembangan pengatur lampu lalu lintas ini amat penting, karena hasilnya dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat. Efisiensi sistem juga merupakan hal yang penting untuk setiap kota besar.
Untuk itu, maka dirancang sebuah alat pengatur lampu lalu lintas berbasis FPGA Altera EPF10K10 menggunakan VHDL. FPGA atau Field Programmable Gate Array adalah rangkaian digital terintegrasi yang terdiri dari blok logika yang dapat dikonfigurasi dan dapat diprogram, serta blok interkoneksi yang dapat dikonfigurasi diantara blok-blok ini. Papan pengembangan FPGA yang digunakan dalam perancangan adalah Wizard FLEX-A01 Experiment Board, yang merupakan papan pengembang FPGA berbasis RAM tipe EPF10K10LC84 (Keluarga Flex 10K) dari ALTERA dengan kapasitas 10.000 gerbang (gates) logika dan 576 logic element serta 6.144 bit RAM dengan Konektor JTAG untuk koneksiByteblaster.
Perancangan ini dilakukan dengan menggunakan kode VHDL atau VHSIC (Very High Speed Integrated Circuits) Hardware Description Language. VHDL adalah sebuah Hardware Description Language (HDL) yang mampu mendeskripsikan sifat atau watak rangkaian atau sistem digital dan merupakan HDL pertama yang mendapat standarisasi dari Institute of Electrical and Electronic Engineers (IEEE) melalui IEEE 1076 dan sebagai tambahan standar, IEEE 1164.
Nomor 27, Tahun VI, Agustus 1999

KENDALI

Pengaturan Lampu Lalulintas Berbasis Fuzzy Logic

Pendahuluan

Suatu sistem peralatan yang ditangani oleh komputer, maka semuanya akan terasa lebih canggih, lebih pintar, lebih otomatis, lebih praktis, lebih efisien, lebih aman, lebih teliti dan sebagainya yang menunjukkan keuntungan-keuntungan bila dibandingkan dengan pengerjaan secara manual.
Kemampuan komputer dapat diberdayakan melalui peningkatan kemampuan unjuk kerja perangkat keras (hardware) atau pada perangkat lunak (software) atau perpaduan keduanya. Kemampuan inilah yang menjadi syarat untuk mewujudkan Modul Sistem Peralatan Pengaturan Lampu Lalulintas Berbasis Fuzzy Logic.
Lampu lalulintas memegang peranan penting dalam pengaturan kelancaran lalulintas. Sistem pengendalian lampu lalulintas yang baik akan secara otomatis menyesuaikan diri dengan kepadatan arus lalulintas pada jalur yang diatur. Dengan penerapan logika fuzzy hal ini sangat memungkinkan untuk dilakukan.
Permasalahan utama dalam perancangan dan pembuatan modul sistem peralatan pengaturan lampu lalulintas berbasis Fuzzy Logic ini, adalah perangkat keras tambahan yang terdiri dari : sensor, OpAmp, ADC 0809, Interfacing PPI 8255, Driver, Relay dan Lampu lalulintas (LL). Sedangkan sebagai dasar pengendalian dari sistem yang dijalankan, digunakan algoritma logika fuzzy.

Logika Fuzzy untuk Sistem Pengaturan Lalulintas

Beberapa istilah yang digunakan dalam pengendalian lampu Lalulintas (LL), antara lain, untuk sebaran kendaraan adalah : Tidak Padat (TP), Kurang Padat (KP), Cukup Padat (CP), Padat (P) dan Sangat Padat (SP). Sedangkan untuk lama nyala lampu LL adalah : Cepat (C), Agak Cepat (AC), Sedang (S), Agak Lama (AL) dan Lama (L). Jelas istilah-istilah tersebut dapt menimbulakan kemenduaan (ambiguity) dalam pengertiannya. Logika Fuzzy dapat mengubah kemenduaan tersebut ke dalam model matematis sehingga dapat diproses lebih lanjut untuk dapat diterapkan dalam sistem kendali. Menggunakan teori himpunan Fuzzy, logika bahasa dapat diwakili oleh sebuah daerah yang mempunyai jangkauan tertentu yang menunjukkan derjat keanggotaannya. Untuk kasus disini, sebut saja derajat keanggotaan itu adalah u(x) untuk x adalah jumlah kendaraan. Derajad keanggotaan tersebut mempunyai nilai yang bergradasi sehingga mengurangi lonjakan pada sistem.
Sistem pengendalian fuzzy yang dirancang mempunyai dua masukan dan stu keluaran. Masukan adalah jumlah kendaraan pada suatu jalur yang sedang diatur dan jumlah kendaraan pada jalur lain, dan keluaran berupa lama nyala lampu hijau pada jalur yang diatur. Penggunaan dua masukan dimaksudkan supaya sistem tidak hanya memperhatikan sebaran kendaraan pada jalur yang sedang diatur saja, tetapi juga memperhitungkan kondisi jalur yang sedang menunggu. Pencuplikan dilakukan pada setiap putaran (lewat 8 sensor yang dipasang pada semua jalur). Satu putaran dianggap selesai apabila semua jalur telah mendapat pelayanan lampu.
Masukan berupa himpunan kepadatan kendaraan oleh logika fuzzy diubah menjadi fungsi keanggotaan masukan dan fungsi keanggotaan keluaran (lama lampu hijau). Bentuk fungsi keanggotaan dapat diatur sesuai dengan distribusi data kendaraan. Menerapkan logika fuzzy dalam sistem pengendalian, membutuhkan tiga langkah, yaitu :
  • Fusifikasi (Fuzzyfication)
  • Evaluasi kaidah
  • Defusifikasi (Defuzzyfication)
Fusifikasi adalah proses mengubah masukan eksak berupa jumlah kendaraan menjadi masukan fuzzy berupa derajat keanggotaan u(x). Setelah fusifikasi adalah evaluasi kaidah. Kaidah-kaidah yang akan digunakan untuk mengatur LL ditulis secara subyektif dalam fuzzy associate memory (FAM), yang memuat hubungan antara kedua masukan yang menghasilkan keluaran tertentu. Kaidah-kaidah ini terlebih dahulu dikonsultasikan kepada mereka yang berpengalaman dalam bidang yang akan dikendalikan, yaitu misalnya Polisi Lalulintas dan DLLAJR. Di sini dipakai kaidah hubungan sebab akibat dengan dua masukan yang digabung menggunakan operator DAN, yaitu : Jika (masukan 1) DAN (masukan 2), maka (keluaran), dan ditabelkan dalam Tabel FAM. Sebagai contoh, jika TP(0,25) dan KP(0,75), maka AC(0,25). Di sini keluaran fuzzy adalah Agak Cepat yaitu AC(0,25).
Tabel FAM
Fuzzy Associate Memory untuk kepadatan Lalulintas
Masukan-1
TP
KP
CP
P
SP
Masukan-2





TP
C
AC
S
AL
L
KP
C
AC
S
AL
L
CP
C
AC
S
AL
AL
P
C
AC
S
S
AL
SP
C
AC
AC
S
S
Keterangan : Masukan-1 adalah jumlah kendaraan pada jalur yang diatur
Masukan-2 adalah jumlah kendaraan pada jalur lain
Setelah diperoleh keluaran fuzzy, proses diteruskan pada defusifikasi. Proses ini bertujuan untuk mengubah keluaran fuzzy menjadi keluaran eksak (lama nyala lampu hijau). Karena keluaran fuzzy biasanya tidak satu untuk selang waktu tertentu, maka untuk dihasilkan keluaran eksaknya dipilih keluaran dengan harga yang terbesar. Bila terdapat dua buah derajat keanggotaan berbeda pada akibat yang sama, diambil harga yang terbesar.
Sistem pengatur LL yang dirancang ini, juga mempertimbangkan masukan interupsi sebagai prioritas utama, sehingga pengaturan LL yang sedang berjalan akan dihentikan sementara untuk melayani jalur yang menyela. Fasilitas ini digunakan untuk keadaan darurat atau mendesak, misalnya seperti pelayanan mobil pemadam kebakaran atau mobil ambulance. Pendeteksian interupsi dilakukan secara terus menerus (residen). Jika lebih dari satu jalur memberi interupsi, maka yang dilayani dulu adalah yang pertama menekan tombol interupsi itu.
Perancangan dan Pembuatan Sistem Peralatan
  • Desain Hardware
Perangkat keras (hardware) yang akan dibuat dirancang sesuai blok diagram berikut :

  • Desain Software
Perangkat lunak (software) yang dibuat dibagi menjadi beberapa bagian besar antara lain meliputi algoritma pengambilan dan masukan, pengiriman data keluaran, pengolahan data secara fuzzy, dan proses kendalinya. Perangkat lunak ini direalisasikan menggunakan Turbo Pascal.
Algoritma program utama mengikuti proses sebagai berikut : mula-mula PPI diinialisasi dengan mengirimkan control word ke register kendali PPI. Dengan mengirimkan nilai 90h ke register kendali PPI, maka port A akan berfungsi sebagai masukan dan port B serta port C akan berfungsi sebagai keluaran.
Selanjutnya akan dikirimkan pulsa reset ke semua input ADC, pada saat awal seluruh jalur akan diberi lampu merah. Setelah proses ini, program melakukan proses yang berulang-ulang, yaitu proses pengambilan data pada tiap sensor, pengolahan data dan proses pengaturan fuzzy menggunakan prinsip-prinsip yang telah dibahas di atas dan menjalankan pengaturan sesuai dengan tabel kendali yang telah dibuat.

Kesimpulan

Dari hasil perancangan dan uji coba sistem yang dibuat, logika fuzzy terbukti dapat digunakan untuk memenuhi tujuan pengaturan lalulintas secara optimal. Sistem yang dihasilkan relatif sederhana dan mempunyai fleksibilitas tinggi. Sistem ini dapat diterapkan di kondisi jalan yang berbeda, yaitu lewat penyesuaian ranah (domain) himpunan fungsi keanggotaan masukan dan keluaran dan kaidah-kaidah kendali pada Fuzzy Associative Memory (Tabel FAM).
Miniatur Sistem Pengaturan Lampu Lalulintas ini dapat diperluas, misalnya :
  1. Komputer dibuat terpusat dengan tugas mengkoordinasi beberapa persimpangan (yang tidak harus 4 jumlahnya), terutama yang berdekatan, dengan tujuan supaya sistem-sistem saling membantu dan memperlancar sebaran kendaraan pada suatu daerah.
  2. Dikembangkan ke arah sistem yang adaptif, yaitu bila kondisi kepadatan berubah, maka sistem akan melakukan perubahan bentuk fungsi keanggotaan masukan dan keluaran, serta tabel FAM secara otomatis.
  3. Digunakan sistem minimum yang salah satunya bisa berupa aplikasi Microcontroler 8031 sehingga sistem tidak lagi tergantung pada penyediaan komputer sebagai otak sistem pengendali.
Penulis : Team Andriewongso.com
Senin, 10-Maret-2008
Apa jadinya jika di dunia ini tidak ada lampu lalu lintas tiga warna atau traffic light? Barangkali, risiko kecelakaan di jalan-terutama di persimpangan-akan sangat besar. Maka, berterima kasihlah pada penemu lampu lalu lintas, Garrett Augustus Morgan.

Suatu kali, ia melihat tabrakan antara mobil dengan kereta kuda. Kejadian itu membekas dalam pikirannya. Karena itu, ia berpikir serius untuk mencari solusi agar kejadian tersebut tak terulang. Maka, pria Amerika berkulit hitam ini segera memutar otak bagaimana membuat sistem lalu lintas lebih aman.

Sebenarnya, ketika itu sudah ada penemuan sistem pengaturan lalu lintas dua sinyal, merah dan hijau. Lampu tersebut pernah dipakai di London pada tahun 1863. Namun, sinyal itu dihentikan penggunaannya karena pada saat beroperasi lampunya meledak. Selain itu, pengaturan dua sinyal stop dan go memiliki kelemahan yaitu tidak adanya interval waktu bagi pengguna jalan sehingga masih banyak menimbulkan tabrakan.

Karena itu, penemuan Garrett dianggap menjadi solusi yang tepat untuk mengatur lalu lintas. Ia menemukan lampu lalu lintas yang berbentuk huruf T yang terdiri dari tiga sinyal stop (lampu merah), go (lampu hijau), dan posisi stop (lampu kuning). Lampu kuning membuat para pengguna jalan memiliki interval waktu untuk berjalan maupun berhenti. Sehingga pada saat lampu kuning, pengguna jalan dapat berjalan atau berhenti dengan perlahan-lahan.

Khusus di malam hari, lampu kuning yang berada di tengah dapat berkedip-kedip untuk memberikan tanda pada pengguna jalan agar lebih berhati-hati di persimpangan. Maklumlah, biasanya saat malam hari, persimpangan amat sepi sehingga bisa saja pengendara dari arah lain datang dengan tiba-tiba.

Penemuan Garrett ini merupakan sebuah penemuan yang sangat berharga. Sebab, manfaatnya mengatur lalu lintas sangat terasa. Tentu, dibutuhkan ketaatan bagi siapa saja untuk mematuhinya agar keselamatan di jalan raya tetap terjaga.



Garrett Augustus Morgan (1877-1963) Penemu Rambu Lalu Lintas

KITA pasti sudah tahu lampu lalu lintas yang terdiri dari tiga warna, merah, kuning, dan hijau. Lampu tersebut sangat berguna dalam mengatur lalu lintas di perempatan atau persimpangan jalan.
Akan tetapi, mungkin banyak dari kita tidak mengetahui siapa orang di balik penemuan lampu lalu lintas tersebut. Ia adalah Garrett Augustus Morgan, seorang Amerika berkulit hitam yang sangat peduli dengan keselamatan orang lain dan gemar melakukan eksperimen untuk membuat hidup lebih baik.
Hanya sampai SD
Morgan lahir tanggal 4 Maret 1877 di Kentucky, AS, dari orang tua yang dulunya budak. Ia menghabiskan masa kecil dengan bersekolah sekaligus bekerja bersama saudara-saudaranya di pertanian milik keluarga. Pada usia yang masih remaja ia pindah ke Cincinnati, Ohio, untuk mencari pekerjaan. Di sana ia bekerja sebagai tukang dari seorang tuan tanah yang kaya.
Seperti kebanyakan keturunan Afrika-Amerika, pendidikan formal yang dijalani Morgan hanya sampai tingkat SD. Namun, berkat rasa ingin tahunya yang sangat besar, ia kemudian menyewa jasa tutor untuk melanjutkan pendidikannya semasa di Cincinnati.
Tahun 1895 Morgan pindah ke Cleveland, masih di Ohio. Ia bekerja sebagai tukang reparasi mesin jahit untuk pengusaha pakaian. Morgan sangat senang bereksperimen dengan alat dan bahan untuk menemukan cara yang lebih baik. Kesenangannya tersebut membuat ia semakin terampil dalam pekerjaannya. Keahliannya dalam memperbaiki peralatan segera tersebar dan membuatnya mendapat banyak tawaran kerja di pabrik-pabrik di wilayah Cleveland.
Morgan memulai usaha sendiri dengan membuka bengkel reparasi dan toko peralatan jahit pada tahun 1907. Dua tahun berikutnya ia mengembangkan usahanya dengan membangun perusahaan yang memiliki 32 pegawai. Perusahaan barunya bergerak di bidang pembuatan pakaian yang semua bahannya dibuat dengan alat-alat buatannya sendiri. Tahun 1920 ia juga sempat merambah di bidang usaha surat kabar dengan dibuatnya Cleveland Call. Ia kemudian dikenal luas sebagai pengusaha kaya yang terhormat. Morgan yang keturunan budak itu akhirnya mampu membeli rumah dan mobil sendiri. Ia merupakan orang Afro-Amerika pertama yang memiliki mobil. Pengalamannya mengendarai mobil inilah yang membuatnya menjadi penemu rambu lalu lintas.
Penemuan rambu lalu lintas
Mobil buatan Amerika pertama dikenalkan ke khalayak sekitar tahun 1900. Pada masa itu, sepeda dan kereta yang diangkut kuda maupun kendaraan bermotor dan pejalan kaki belum terbiasa berbagi jalan. Kecelakaan sering terjadi antarkendaraan maupun antara kendaraan dan pejalan kaki.
Setelah menjadi saksi mata terjadinya tabrakan antara mobil dengan kereta kuda, Morgan merasa ada yang harus diperbaiki dari sistem lalu lintas jalan. Ketika para penemu yang lain melaporkan bahkan ada yang sudah memasarkan rambu lalu lintas buatan mereka, Morgan menjadi orang pertama yang mematenkan pengatur lalu lintas dengan sistem tiga sinyal atau tiga posisi.
Sebelum penemuan rambu lalu lintas tiga sinyal milik Morgan, sebenarnya telah ditemukan pengatur dengan sistem dua sinyal. Tahun 1898 di London telah dipakai pengatur dengan lampu gas berwarna merah dan hijau, namun penggunaannya dihentikan setelah terjadi ledakan lampu tersebut ketika dioperasikan.
Pengatur dengan sistem dua rambu “Stop” dan “Go” tanpa ada interval yang jelas terbukti masih menimbulkan banyak tabrakan di persimpangan yang ramai kendaraan. Selain itu, pengoperasiannya sangat bergantung kepada operator. Malam hari ketika operator tidak ada biasanya para pengguna jalan akan mengabaikan rambu-rambu tersebut.
Rambu lalu lintas buatan Morgan adalah tiang dengan ujung berbentuk huruf T yang terdiri dari tiga sinyal yaitu “Stop”, “Go”, dan posisi “Stop” untuk semua arah. Sinyal ketiga ini membuat para pengguna jalan memiliki interval waktu dari berhenti sampai jalan kembali atau sebaliknya. Penggunaannya bukan hanya menguntungkan para pemakai kendaraan dalam hal keamanan, tetapi juga untuk para pejalan kaki, terutama pada jalan dengan persimpangan yang sangat ramai. Pada malam hari rambu buatan Morgan bisa dibuat dalam posisi setengah tiang. Posisi ini lebih efektif memberikan sinyal kepada para pengendara agar lebih berhati-hati di persimpangan yang sepi, karena pengendara dari arah lain bisa datang kapan pun tanpa bisa dideteksi sebelumnya.
Teknologi rambu lalu lintas Morgan kemudian dipakai di Amerika Utara sampai penggunaannya diganti dengan lampu lalu lintas sistem lampu hijau, kuning, dan merah, seperti yang dipakai sampai sekarang.
Selain lampu lalu lintas, Morgan juga menemukan alat jahit zig-zag dan filter rokok yang bisa bersih secara otomatis. Penemuan lainnya yang terkenal adalah pakaian dan masker pelindung asap. Penemuan masker gas pertama ini membuahkan medali emas dalam ajang ekshibisi internasional untuk sanitasi dan keamanan serta medali emas dari asosiasi internasional untuk pemadam kebakaran.
Morgan beranjak dewasa ketika Amerika Serikat masih berkutat dengan masalah rasisme. Meskipun perbudakan telah dihapuskan pada tahun 1863, masih banyak masalah yang timbul dan memerlukan kebijakan dari pemerintah. Morgan sangat membenci rasisme dan orang-orang yang menganggap dirinya lebih baik hanya karena status sosial dan warna kulit.
Meski penemuan dan usahanya telah menjadikannya orang terpandang, masih banyak yang memandang sebelah mata hanya karena ia berkulit hitam. Komitmen Morgan dalam memerangi masalah rasisme ini diwujudkannya dengan menjadi anggota Asosiasi Orang-orang kulit berwarna di Cleveland. Morgan aktif di organisasi tersebut sampai ia meninggal pada tanggal 27 Agustus 1963 di usianya yang genap 86 tahun.
Lampu sinyal

←Membuat halaman berisi 'Lampu Aldis '''Lampu sinyal''' adalah sebuah alat komunikasi yang mengisyaratkan sejumlah kode-kode tertentu dengan mengg...'
Halaman baru
[[Berkas:Aldis lamp.jpg |thumb|256px|right|Lampu Aldis]]
'''Lampu sinyal''' adalah sebuah alat [[komunikasi]] yang mengisyaratkan sejumlah kode-kode tertentu dengan menggunakan [[cahaya]]. Umumnya kode yang digunakan adalah [[kode Morse]]. Penemu lampu sinyal adalah Arthur C. W. Aldis, karena itu alat ini juga sering disebut lampu Aldis. Secara sederhana, lampu sinyal digunakan dengan membuka dan menutup sebuah jendela atau penutup yang dipasang di depan lampu, dengan durasi yang beragam. Proses menutup dan membuka jendela ini bisa dioperasikan secara manual dengan menekan [[sakelar]], atau secara otomatis. Lampu biasanya juga dilengkapi dengan alat optik untuk memperjelas pengelihatan, dan mudah dipindahkan. Cahaya yang dihasilkan paling tidak harus mencapai jarak pandang 8 mil dan mampu memancarkan 12 kata per menit.
== Sejarah Awal Penggunaan Lampu Sinyal ==
[[Berkas:Aldis lamp2.jpg|thumb|256px|right|Penggunaan Lampu Sinyal Pada [[Angkatan Laut Britania Raya]]]]
Lampu sinyal pertama kali digunakan oleh [[Angkatan Laut Britania Raya]] pada akhir abad 19. Lampu sinyal dianggap sebagai sarana komunikasi yang aman dan mudah digunakan, selama alat-alat komunikasi berbasis [[radio]] sedang tidak bisa dipakai, atau tidak boleh digunakan pada saat menghindari musuh. Beberapa jenis lampu sinyal dipasang pada tempat-tempat yang berbeda. Beberapa lampu dipasang pada puncak tiang [[kapal]], yang cahayanya lebih kuat terpasang di tiang kapal, dan ada pula lampu sinyal ukuran kecil yang dapat digenggam. Lampu yang lebih besar dan memiliki cahaya lebih kuat ini, menggunakan lampu busur [[karbon]] sebagai sumber cahaya dengan diameter 50 cm. Ini dapat digunakan untuk sinyal ke cakrawala, bahkan dalam kondisi cahaya matahari yang sedang cerah-cerahnya. Selain itu, lampu sinyal juga memiliki fungsi sekunder sebagai lampu sorot sederhana.

Praktek pengiriman sinyal berupa kode-kode tertentu, pertama kali dilakukan oleh Philip Howard Colomb, pada tahun 1867. Kode asli yang diciptakan Colomb, digunakan oleh Angkatan Laut selama tujuh tahun dan tidak identik dengan kode Morse. Tetapi ahirnya penggunaan kode Morse diadopsi dengan penambahan beberapa sinyal khusus. Kemudian muncul generasi kedua untuk pengiriman sinyal di Angkatan Laut Britania Raya, yaitu lampu berkedip. Jenis lampu berkedip ini muncul setelah sinyal-sinyal bendera terkenal.
Angkatan Laut di negara-negara maju, dan pasukan [[NATO]] juga menggunakan lampu sinyal ketika komunikasi berbasis radio sedang tidak bisa dipakai, atau sedang tidak ada aliran listrik. Selain itu, mengingat hampir semua [[angkatan bersenjata]] dewasa ini sudah di lengkapi dengan peralatan penglihatan malam, sinyal di malam hari biasanya dilakukan dengan lampu yang beroperasi di [[spektrum]] [[inframerah]]. Ini membuat mereka cenderung lebih tidak terdeteksi.
== Pengaplikasian Lampu Sinyal Dalam Kehidupan Sehari-hari ==

=== Pengatur Lalu Lintas Udara ===
Di dalam [[menara]] kontrol lalu lintas udara, lampu sinyal masih digunakan sampai hari ini, dan berfungsi sebagai perangkat cadangan jika terjadi kerusakan pada radio di [[pesawat terbang]]. Lampu sinyal dapat berwarna merah, hijau, atau putih selain itu juga dapat stabil atau berkedip. Pesan yang disampaikan pun terbatas. Hanya pada beberapa petunjuk dasar seperti “mendarat” atau “putar arah”. Lampu sinyal di sini tidak dimaksudkan untuk mentransmisikan pesan dalam bentuk kode Morse. Pesawat dapat memberi tahu menara pengatur lalu lintas udara bahwa mereka mendapatkan pesan dari mereka dengan cara mengerakan sayap pesawat atau dengan menyalakan lampu yang menandakan bahwa mereka akan mendarat.
Awalnya, pada sekitar tahun 1940-an, lampu sinyal atau lampu Aldis dan juga [[pistol]] cerawat menjadi peralatan penting yang wajib dimiliki oleh menara lalu lintas udara. Ini dikarenakan kebanyakan dari pesawat kecil pada saat itu belum dilengkapi dengan radio. Bahkan keberadaan mereka belum bisa dideteksi karena pada saat itu [[radar]] masih belum terlalu canggih. Namun, karena berkembangnya teknologi komunikasi, lampu sinyal dan juga pistol cerawat saat ini hanya sebagai cadangan dan digunakan apabila terjadi kerusakan pada [[teknologi]] komunikasi yang dipakai.
=== Lampu lalu lintas ===
Pada dasarnya cara kerja [[lampu lalu lintas]] hampir sama dengan lampu sinyal pada menara pengatur lalu lintas udara. Lampu-lampu ini diletakan didaerah-daerah persimpangan. Lampu-lampu ini digunakan untuk mengatur lalu lintas di persimpangan jalan, lampu ini mengatur kapan mobil bisa jalan, kapan mobil harus berhenti, atau kapan pejalan kaki bisa menyebrang jalan. Lampu-lampu ini mengunakan warna-warna yang diakui secara [[universal]] seperti hijau untuk jalan, kuning untuk hati-hati, dan merah untuk menandakan berhenti. Sama seperti lampu sinyal yang ada di menara pengatur lalu lintas udara, lampu sinyal disini tidak digunakan untuk mentrasmisikan pesan dalam bentuk kode morse, tapi lebih berbentuk tanda-tanda yang diakui secara universal.
=== Lampu sinyal kereta api ===
Persinyalan [[kereta api]] adalah seperangkat fasilitas yang berfungsi untuk memberikan [[isyarat]] berupa bentuk, warna atau cahaya yang ditempatkan pada suatu tempat tertentu dan memberikan isyarat dengan arti tertentu untuk mengatur dan mengontrol pengoperasian kereta api. Lampu-lampu ini juga menggunakan warna-warna yang sama seperti lampu lalu lintas pada umumnya. Untuk menghindari bola lampu putus, biasanya digunakan dua pasang lampu atau setiap aspek dipasangi 2 lampu sedangkan perkembangan terakhir yang sudah mulai digunakan di [[Indonesia]] adalah penggunaan lampu [[LED]].
=== Aplikasi Pada Produk iPhone ===
Sebuah fitur lampu sinyal juga dimiliki oleh prduk [[iPhone]]. [[Aplikasi]] tambahan ini memudahkan pengguna untuk mentransmisikan kode Morse dalam bentuk sinyal cahaya. Tombol kode Morse akan otomatis mematikan lampu ketika ditekan, dan memungkinkan pengguna untuk mulai mentransmisikan sinyal.





Lampu lalu lintas jaringan Bisa Hemat Waktu, BBM, dan Kehidupan

09:00 Wawawiwi , Posted in IPTEK , 0 Comments
Setelah pintar grid, pintar dan cerdas limbah lampu, here comes the cerdas lampu lalu lintas. Untuk bersikap adil, banyak lampu sudah memiliki beberapa sensor dan dapat menyesuaikan siklus mereka berdasarkan umpan balik dari jalan, tapi apa yang saya bicarakan di sini adalah pada seluruh tingkat lain. BMW dan Siemens memperkenalkan sistem jaringan lampu lalu lintas yang dapat berkomunikasi dengan mobil terdekat untuk memperingatkan mereka tentang kondisi jalan, membantu mereka lebih baik menggunakan fitur anti-pemalasan, tetapi juga dapat mempelajari tentang pola lalu lintas dari mobil-mobil dan menyesuaikan bersepeda kali untuk mengoptimalkan lalu lintas aliran, menghemat waktu dan bahan bakar.

Dave, Mobil depan adalah Peringatan Me Tentang ...
Sistem seperti ini juga bisa dikeluarkan untuk memiliki mobil berbicara langsung satu sama lain ( "Car2Car" bukannya "Car2Infrastructure"). Ini bisa berarti bahwa mobil tergelincir es hitam bisa memperingatkan mobil di belakangnya tentang kondisi traksi sehingga mereka bisa tahu untuk memperlambat dan berhati-hati.

Tapi kembali ke lampu lalu lintas: Jika mobil dilengkapi dengan teknologi anti-pemalasan (alias stop-start), hemat bahan bakar potensial dapat dimaksimalkan dengan mengetahui tentang cahaya's siklus.

Fungsi switch saat mesin mati segera setelah mobil diam dan sopir melepaskan kopling, dengan me-restart mesin ketika kopling tertekan. Jika hanya ada beberapa detik antara berhenti dan mulai, bagaimanapun, adalah lebih hemat energi untuk membiarkan mesin berjalan.

Pada saat yang sama, kendaraan bisa mengirimkan kembali informasi ke lampu lalu lintas, misalnya posisi, arah dan kecepatan dari mobil, yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan arus lalu lintas dan untuk menyesuaikan waktu siklus lampu lalu lintas.

Mengurangi Gesekan di Jalan - It Adds Up
Membuat arus lalu lintas yang lebih efisien dengan memiliki lampu lalu lintas yang selalu mengadaptasi dan berbicara satu sama lain sehingga kendaraan mendapatkan sebanyak mungkin lampu hijau berturut-turut mungkin, yang mungkin terdengar seperti hal kecil, tetapi jika Anda mengalikan waktu dan bahan bakar disimpan untuk setiap mobil dengan jumlah mobil di jalan, itu cukup besar. Sama untuk jumlah nyawa diselamatkan oleh membuat mobil dan persimpangan lebih aman.

Jika ini akan dikombinasikan dengan jenis realitas ditambah kaca depan dan onboard, pembuat komputer yang bekerja pada (lihat di sini untuk contoh), semua informasi ini dapat diberikan kepada pengemudi yang sangat intuitif dan tidak mengganggu jalan. Anda mungkin bahkan tidak perlu mengambil mata Anda dari jalan.

Hanya Kecil Bagian dari Solusi
Tentu saja semua ini hanya bekerja pada gejala. Yang sebenarnya untuk menghemat bahan bakar dan membuat jalan lebih aman adalah dengan mengandalkan banyak kurang pada mobil. Walkable kota, kualitas jalur sepeda, cepat cepat transit. Semua hal-hal yang sangat diperlukan. Tapi tidak ada salahnya juga membuat infrastruktur yang terkait dengan mobil yang lebih efisien dan aman.
Pembuatan pengendali lampu lalu lintas jalan raya disertai kamera pemantau
%U http://dewey.petra.ac.id/jiunkpe_dg_9788.html
Ada berbagai macam cara pengendalian lampu lalu lintas, misalnya operator
yang ingin mengubah setting pada lampu lalu lintas harus melakukannya langsung
di tempat lampu lalu lintas berada. Dengan demikian sistem seperti ini menjadi
kurang efektif, karena setiap kali mau mengadakan perubahan setting pada lampu
lalu lintas maka, operator harus melakukannya di tempat lampu tersebut berada.
Oleh karena itu, ditawarkanlah sebuah solusi untuk mengefektifkan pekerjaan
operator dalam mengendalikan lampu lalu lintas jalan raya. Solusi tersebut adalah
pembuatan pengendali lampu lalu lintas jalan raya yang dapat dikendalikan dari
jarak jauh melalui jaringan komputer dan dapat dipantau melalui kamera
pemantau.
Sistem yang dibangun ini memiliki aplikasi yang terdapat pada sisi client
dan server dan dibuat menggunakan Borland Delphi 7.0 termasuk komponen
tambahan seperti IConf SDK dan TVicLPT. Client mengendalikan perangkat
keras dengan memanfaatkan MSSQL Server sebagai database untuk menyimpan
data-data yang akan digunakan oleh server. Eksekusi data oleh aplikasi pada sisi
server diproses oleh rangkaian yang terdiri dari bagian buffer, decoder,
multiplexer yang terhubung dengan PC melalui paralel port.
Sistem ini menunjukkan bahwa pengendalian lampu lalu lintas dapat
dilakukan dari jarak jauh melalui media jaringan komputer dan dapat dipantau
dari client menggunakan kamera pemantau dengan kecepatan putaran penggerak
kamera sebesar 66? / 3 detik.

Keunggulan LED Light

LED adalah generasi terbaru lampu signal sebagai pengganti bola lampu pijar atau halogen, yang telah banyak dipakai oleh hampir seluruh kota-kota besar di negara maju. Ada lampu LED outdoor ada juga yang indoor. Keunggulan dari lampu LED adalah :

* Umur nyala lebih lama
* Secara teknis nyala lampu LED = 100.000 jam jika dipakai untuk traffic light bergantian Merah, Kuning, dan Hijau maka sehari rata-rata menyala selama 8 jam, maka umur nyala 100.000 : 8 : 365 = ± 34 tahun.
* Tidak memerlukan perawatan.
* Pemakaian daya kurang dari 10 watt.
* Sinar lebih kuat.
* Distribusi sinar lebih merata.
* Dapat dipasang pada semua jenis box lampu traffic light dengan ukuran yang sama.
* Terdapat 2 ukuran yaitu : 200 mm dan 300 mm
* Module LED (Merah, Amber, Hijau)

Lampu lalu lintas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Lampu lalu lintas di Britania Raya.
Lampu lalu lintas adalah adalah lampu yang mengendalikan arus lalu lintas yang terpasang di persimpangan jalan, tempat penyeberangan pejalan kaki (zebra cross), dan tempat arus lalu lintas lainnya. Lampu ini yang menandakan kapan kendaraan harus berjalan dan berhenti secara bergantian dari berbagai arah. Pengaturan lalu lintas di persimpangan jalan dimaksudkan untuk mengatur pergerakan kendaraan pada masing-masing kelompok pergerakan kendaraan agar dapat bergerak secara bergantian sehingga tidak saling mengganggu antar-arus yang ada.
Lampu lalu lintas telah diadopsi di hampir semua kota di dunia ini. Lampu ini menggunakan warna yang diakui secara universal; untuk menandakan berhenti adalah warna merah, hati-hati yang ditandai dengan warna kuning, dan hijau yang berarti dapat berjalan.

. Barangkali, resiko kecelakaan di jalan, terutama di persimpangan akan sangat besar. Maka, berterima kasihlah pada penemu lampu lalu lintas, Garrett Augustus Morgan. Suatu kali, ia melihat tabrakan antara mobil denga kereta kuda. Kejadian itu membekas dalam pikirannya. Karena itu, ia berpikir serius untuk mencari solusi agar kejadian tersebut tak terulang. Maka, pria Amerika berkulit hitam ini segera memutar otak bagaimana membuat sistem lalu lintas lebih aman.
Sebenarnya, ketika itu sudah ada penemuan sistem pengaturan lalu lintas dua sinyal, merah dan hijau. Lampu tersebut pernah dipakai di London pada tahun 1863. Namun, sinyal itu dihentikan penggunaannya karena pada saat beroperasi lampunya meledak. Selain itu, pengaturan dua sinyal stop dan go memiliki kelemahan yaitu tidak adanya interval waktu bagi pengguna jalan sehingga masih banyak menimbulkan tabrakan.
Karena itu, penemuan Garrrett dianggap menjadi solusi yang tepat untuk mengatur lalu lintas. Ia menemukan lampu lalu lintas yang berbentuk huruf T yang terdiri dari tiga sinyal, stop (lampu merah), go (lampu hijau), dan posisi stop (lampu kuning). Lampu kuning membuat para pengguna jalan memiliki interval waktu untuk berjalan maupun berhenti. Sehingga pada saat lampu kuning, pengguna jalan dapat berjalan atau berhenti dengan perlahan-lahan.
Khusus dimalam hari, lampu kuning yang berada di tengah dapat berkedip-kedip untuk memberikan tanda pada pengguna jalan agar lebih berhati-hati di persimpangan. Maklumlah, biasanya saat malam hari, persimpangan amat sepi sehingga bisa saja pengendara dari arah lain datang dengan tiba-tiba.
Penemuan Garrett ini merupakan sebuah penemuan yang sangat berharga. Sebab, manfaatnya mengatur lalu lintas sangat terasa. Tentu, dibutuhkan ketaatan bagi siapa saja untuk mematuhinya agar keselamatan di jalan raya tetap terjaga.

Blog Entry
Apr 16, '08 5:17 AM
for everyone
Lampu lalu lintas adalah suatu peranti pemberi sinyal yang ditempatkan di persimpangan jalan, penyeberangan jalan, atau lokasi-lokasi lain untuk menunjukkan keadaan aman untuk mengendarai atau berjalan sesuai dengan kode warna universal (dan suatu urutan yang persis bagi orang-orang yang menderita buta warna). Lampu lalu lintas disebut juga sebagai alat pemberi isyarat lalu lintas /APILL
Sistem pengaturan lampu lalu-lintas pertama kali diperkenalkan di Inggris, yaitu di daerah Westminster pada tahun 1868. Adapun pada saat itu digunakan semacam gas sebagai alat pengendalinya. Penggunaan gas tidak berlangsung lama, karena gas tersebut mudah meledak. Pada tahun 1918 di New York mulai diperkenalkan penggunaan sinyal sebagai pengendali untuk mengontrol lampu lalu-lintas dengan penggunaan lampu 3 warna.
Sementara itu penggunaan sinyal secra manual yang menggunakan tenaga manusia sebagai operatornya, mulai digunakan di Piccodity pada tahun 1925. Pada tahun 1926 di Wolverhamton, Inggris digunakan sistem pengaturan lampu lalu lintas otomatis untuk pertama kalinya.
LALU LINTAS
Lalu lintas adalah gerak kendaraan bermotor, kendaraan tidak bermotor, pejalan kaki dan hewan di jalan yang merupakan salah satu cabang dari transportasi yang menyangkut operasi dari jalan.
Pemerintah mempunyai tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan yang selamat, aman, cepat, lancar, tertib dan teratur, nyaman dan efisien melalui manajemen lalu lintas dan rekayasa lalu lintas.
Tata cara berlalu lintas di jalan diatur dengan peraturan perundangan menyangkut arah lalu lintas, perioritas menggunakan jalan, lajur lalu lintas, jalur lalu lintas dan pengendalian arus di persimpangan.
MANAGEMEN LALU LINTAS
Manajemen Lalu Lintas

Manajemen lalu lintas meliputi kegiatan perencanaan, pengaturan, pengawasan, dan pengendalian lalu lintas. Manajemen lalu lintas bertujuan untuk keselamatan, keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas, dan dilakukan antara lain dengan :
a. usaha peningkatan kapasitas jalan ruas, persimpangan, dan/atau jaringan jalan;
b. pemberian prioritas bagi jenis kendaraan atau pemakai jalan tertentu;
c. penyesuaian antara permintaan perjalanan dengan tingkat pelayanan tertentu dengan mempertimbangkan keterpaduan intra dan antar moda;
d. penetapan sirkulasi lalu lintas, larangan dan/atau perintah bagi pemakai jalan.
Kegiatan perencanaan lalu lintas meliputi
inventarisasi dan evaluasi tingkat pelayanan. Maksud inventarisasi antara lain untuk mengetahui tingkat pelayanan pada setiap ruas jalan dan persimpangan. Maksud tingkat pelayanan dalam ketentuan ini adalah merupakan kemampuan ruas jalan dan persimpangan untuk menampung lalu lintas dengan tetap memperhatikan faktor kecepatan dan keselamatan.
penetapan tingkat pelayanan yang diinginkan. Dalam menentukan tingkat pelayanan yang diinginkan dilakukan antara lain dengan memperhatikan : rencana umum jaringan transportasi jalan; peranan, kapasitas, dan karakteristik jalan, kelas jalan, karakteristik lalu lintas, aspek lingkungan, aspek sosial dan ekonomi.penetapan pemecahan permasalahan lalu lintas, penyusunan rencana dan program pelaksanaan perwujudannya. Maksud rencana dan program perwujudan dalam ketentuan ini antara lain meliputi: penentuan tingkat pelayanan yang diinginkan pada setiap ruas jalan dan persimpangan, usulan aturan-aturan lalu lintas yang akan ditetapkan pada setiap ruas jalan dan persimpangan, usulan pengadaan dan pemasangan serta pemeliharaan rambu rambu lalu lintas marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, dan alat pengendali dan pengaman pemakai jalan; usulan kegiatan atau tindakan baik untuk keperluan penyusunan usulan maupun penyuluhan kepada masyarakat.
Kegiatan pengaturan lalu lintas meliputi
Kegiatan penetapan kebijaksanaan lalu lintas pada jaringan atau ruas-ruas jalan tertentu. termasuk dalam pengertian penetapan kebijaksanaan lalu lintas dalam ketentuan ini antara lain penataan sirkulasi lalu lintas, penentuan kecepatan maksimum dan/atau minimum, larangan penggunaan jalan, larangan dan/atau perintah bagi pemakai jalan
Kegiatan pengawasan lalu lintas meliputi
pemantauan dan penilaian terhadap pelaksanaan kebijaksanaan lalu lintas. Kegiatan pemantauan dan penilaian dimaksudkan untuk mengetahui efektifitas dari kebijaksanaan-kebijaksanaaan tersebut untuk mendukung pencapaian tingkat pelayanan yang telah ditentukan. Termasuk dalam kegiatan pemanatauan antara lain meliputi inventarisasi mengenai kebijaksanaan-kebijaksanaan lalu lintas yang berlaku pada ruas jalan, jumlah pelanggaran dan tindakan-tindakan koreksi yang telah dilakukan atas pelanggaran tersebut. Termasuk dalam kegiatan penilaian antara lain meliputi penentuan kriteria penilaian, analisis tingkat pelayanan, analisis pelanggaran dan usulan tindakan perbaikan.
tindakan korektif terhadap pelaksanaan kebijaksanaan lalu lintas. Tindakan korektif dimaksudkan untuk menjamin tercapainya sasaran tingkat pelayanan yang telah ditentukan. Termasuk dalam tindakan korektif adalah peninjauan ulang terhadap kebijaksanaan apabila di dalam pelaksanaannya menimbulkan masalah yang tidak diinginkan.
Kegiatan pengendalian lalu lintas meliputi
pemberian arahan dan petunjuk dalam pelaksanaan kebijaksanaan lalu lintas. Pemberian arahan dan petunjuk dalam ketentuan ini berupa penetapan atau pemberian pedoman dan tata cara untuk keperluan pelaksanaan manajemen lalu lintas, dengan maksud agar diperoleh keseragaman dalam pelaksanaannya serta dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya untuk menjamin tercapainya tingkat pelayanan yang telah ditetapkan.
pemberian bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai hak dan kewajiban masyarakat dalam pelaksanaan kebijaksanaan lalu lintas.
Mengapa lampu lalu lintas menggunakan warna merah, kuning, dan hijau? Mengapa lampu merah paling atas, lampu hijau paling bawah dan kuning di tengah?[/SIZE]

Sinyal pengatur lalu lintas sesungguhnya sudah muncul sebelum orang mengenal mobil. Contohnya sinyal yang terpasang di luar gedung Parlemen Inggris pada tahun 1868. Sinyal ini (dan beberapa variasi Amerika di masa itu) memiliki dua lengan semafor, seperti sinyal kereta api, yang bertindak sebagai penghalang fisik terhadap lalu lintas yang akan melewatinya.

Perangkat versi Inggris dirancang untuk mengendalikan arus pejalan kaki, dan beberapa tambahan diperlukan agar dapat berfungsi pada malam hari. Cara paling mudah adalah mengambil contoh dari system yang telah digunakan untuk sinyal kereta api, lampu gas merah hijau akan memberi tanda kapan orang boleh lewat (hijau) atau harus berhenti (merah).

Prototipe Inggris ini tidak begitu sukses, lampunya terbakar tidak lama setelah diperkenalkan, menewaskan seorang polisi London. Orang-orang memiliki perbedaan pendapat mengenai dimana sinyal lalu lintas modern pertama dirancang untuk mengendalikan lalu lintas kendaraan bermotor digunakan. Walaupun Salt Lake City dan St. Paul mengaku sebagai yang pertama, sinyal hijau merah yang dipasang di Euclid Avenue di Cleveland, Ohio, pada tahun 1914 diakui secara umum sebagai yang pertama.

Sampai tahun 1950an, banyak lampu lalu lintas, terutama perkotaan yang sibuk, dipasang horizontal bukan vertical. Rancangan vertical yang sekarang, dengan lampu merah dipaling atas dimaksudkan untuk memudahkan penderita buta warna. Merah dalam lampu lalu lintas memiliki sedikit warna oranye sedangkan hijau memiliki sedikit warna biru supaya lebih mudah lagi dibedakan oleh penderita buta warna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar